Minggu, 18 Desember 2011

sosiologi

Masyarakat Desa dan Kota
by: Nisa K.H.
Masyarakat pedesaan dan perkotaan memiliki perbedaan dalam kehidupannya. Perbedaan-perbedaan ini berasal dari adanya perbedaan yang mendasar dari keadaan lingkungan, yang mengakibatkan adanya dampak terhadap personalitas dan segi-segi kehidupan. Kesan populer masyarakat kota terhadap masyarakat desa adalah bodoh, lambat dalam berpikir dan bertindak, serta mudah tertipu, dsb. Masyarakat pedesaan ditentukan oleh basis fisik dan sosialnya, seperti adanya kolektivitas, petani individu, tuan tanah, buruh tani, pemaro, dan lainlain. Ciri lain bahwa desa terbentuk erat kaitannya dengan naluri alamiah untuk mempertahankan kelompoknya, melalui kekerabatan tinggal bersama dalam memenuhi kebutuhannya. Sementara dalam masyarakat perkotaan, kebutuhan primer dihubungkan dengan status sosial dan gaya hidup masa kini sebagai manusia modern.

Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
1.    Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam
Masyarakat pedesaan berhubungan kuat dengan alam, disebabkan oleh lokasi geografinya di daerah desa. Mereka sulit untuk mengendalikan kenyataan alam yang dihadapinya, padahal bagi petani realitas alam sangat penting dalam kehidupannya. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukum alam, seperti dalam pola berpikir dan falsafah hidupnya. Sementara penduduk yang tinggal di kota berada dalam kehidupan yang bebas dari realita alam. Misalnya, dalam bercocok tanam dan menuai masyarakat desa akan menyesuaikan dengan waktu yang dianggap paling tepat, sehingga ada kecenderungan untuk nrimo. Padahal mata pencaharian juga menentukan relasi dan reaksi sosial.
2.    Pekerjaan atau Mata Pencaharian
Kebanyakan mata pencaharian masyarakat pedesaaan adalah bertani. Tetapi mata pencaharian berdagang (bidang ekonomi) merupakan pekerjaan sekunder darimpekerjaan yang nonpertanian. Sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha atau industry, demikian pula kegiatan mata pencaharian keluarga untuk tujuan hidupnya lebih luas lagi. Pada masyarakat kota, mata pencaharian cenderung menjadi terspesialisasi, dan spesialisasi itu sendiri dapat dikembangkan, mungkin menjadi menejer suatu perusahaan, ketua atau pimpinan dalam suatu birokrasi. Sebaliknya, seorang petani harus kompeten dalam bermaca,-macam keahlian seperti keahlian memelihara tanah, bercocok tanam, penyakit, pemasaran, dsb. Jadi, petani keahliannya lebih luas dibandingkan dengan masyarakat kota.

3.    Ukuran Komunitas
Komunitas pedesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan. Dalam mata pencaharian di bidang pertanian, imbangan tanah dengan manusia cukup tinggi bila dibandingkan dengan industry, dan akibatnya daerah pedesaan mempunyai penduduk yang rendah per kilometer perseginya. Tanah pertanian luasnya bervariasi. Bergantung kepada tipe usaha taninya, tanah yang cukup luas sanggup menampung usaha tani dan usaha ternak sesuai dengan kemampuannya. Oleh sebab itu, komunitas desa lebih kecil jika dibandingkan dengan komunitas kota.
4.    Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk di desa lebih rendah jika dibandingkan dengan kepadatan penduduk di kota. Kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dengan klasifikasi dari kota itu sendiri. Contohnya dalam perubahan-perubahan pemukiman, dari penghuni satu keluarga menjadi pembangunan multikeluarga dengan flat dan apartemen , seperti yang terjadi di kota.
5.    Homogenitas dan Heterogenitas
Homogenitas dalam cirri-ciri sosial dan psikologi, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku sering nampak pada masyarakat pedesaan. Kampung-kampung bagian dari suatu masyarakat desa mengenai minat dan pekerjaannya hampir sama, sehingga kontak tatap muka lebih sering terjadi. Sebaliknya, masyarakat kota cenderung lebih heterogen. Contohnya dalam perilaku, dan bahasa. Hal ini karena daya tarik dari mata pencaharian, pendidikan, komunikasi, dan transportasi yang menyebabkan kota menarik orang-orang dari berbagai kelompok etnis untuk dating ke kota.
6.    Diferensiasi Sosial
Fasilitas kota, hal-hal yang berguna, pendidikan, rekreasi, agama, bisnis, dan fasilitas perumahan, menyebabkan terorganisasinya berbagai keperluan, adanya pembagian pekerjaan, dan adanya saling membutuhkan serta saling tergantung. Sementara pada masyarakat desa diferensiasi (pembedaan) sosial cenderung lebih rendah tingkatannya dibanding di kota.
7.    Pelapisan Sosial
Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam perwujudannya, seperti piramida sosial, yaitu kelas-kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.
Beberapa perbedaan pelapisan antara masyarakat desa dan kota:
a.    Pada masyarakat kota aspek kehidupan pekerjaan, ekonomi, atau sosial-politik lebih banyak sistem pelapisannya dibandingkan dengan di desa.
b.    Pada masyarakat desa kesenjangan antara kelas ekstrem dalam piramida sosial tidak terlalu besar, sedangkan dalam masyarakat kota jarak antara kelas si kaya dan si miskin cukup besar. Di daerah pedesaan tingkatnya hanya kaya dan miskin saja.
c.    Pada umumnya masyarakat pedesaan cenderung pada kelas menengah menurut ukuran desa, sebab orang kaya dan orang miskin sering bergeser ke kota. Kepindahan orang miskin disebabkan karena tidak punya tanah, mencari pekerjaan di kota, atau mengikuti program transmigrasi.
8.    Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial berkaitan dengan perpindahan  atau pergerakan suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya. Mobilitas kerja dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, mobilitas territorial dari daerah desa ke kota, dari kota ke desa, atau di daerah desa dan kota sendiri. Mobilitas sosial lebihh sering terjadi pada masyarakat kota karena keadaan masyarakat kota yang heterogen
9.    Interaksi Sosial
Perbedaan yang penting dalam interaksi sosial dalam masyarakat kota dan masyarakat desa, diantaranya:
a.         Jumlah masyarakat pedesaan lebih sedikit dan tingkat mobilitas sosialnya rendah, maka kontak pribadi per individu lebih sedikit. Demikian pula kontak melalui radio, televise, majalah, poster, koran, dan media lain.
b.        Penduduk kota lebih sering melakukan kontak, tetapi cenderung formal, dan tidak bersifat pribadi, tetapi melalui tugas atau kepentingan-kepentingannya. Sementara itu, kontak sosial yang terjadi di desa lebih banyak terjadi dengan tatap muka, ramah-tamah (informal), dan pribadi. Daerah jangkauan kontak sosial pada masyarakat pedesaan biasanya sempit dan terbatas. Di kota kontak sosial lebih tersebar pada daerah yang luas, melalui perdagangan, perusahaan, industry, pemerintahan, pendidikan, agama, dsb.
10.    Pengawasan Sosial
Tekanan sosial oleh masyarakat di pedesaan lebih kuat karena kontaknya yang bersifat pribadi dan ramah-tamah, dan keadaan masyarakatnya yang homogeny. Penyesuaian terhadap norma sosial lebih tinggi dengan tekanan sosial yang informal, dan nantinya dapat berarti sebagai pengawasan sosial. Di kota pengawasan sosial lebih bersifat formal, pribadi, kurang terkena aturan yang kurang ditegakkan, dan peraturan lebih menyangkut masalah pelanggaran.
11.    Pola Kepemimpinan
Pola kepemimpinan di desa cenderung didasarkan oleh kualitas pribadi dari individu dibandingkan dengan di kota. Misalnya karena kesalahan, kejujuran, jiwa pengorbanannya, dan pengalamannya. Jika criteria tersebut terus melekat pada masyarakat, maka criteria keturunan akan menentukan kepemimpinan di pedesaan.
12.    Standar Kehidupan
Berbagai alat yang menyenangkan di rumah, keperluan masyarakat, pendidikan, rekreasi, fasilitas agama, dan fasilitas lain tersedia lengkap di kota. Sementara kehidupan di desa masih sangat sederhana dan alat pemenuh kebutuhan juga masih terbatas.
13.    Kesetiakawanan Sosial
Pada masyarakat pedesaan ada kegiatan tolong-menolong (gotong-royong) dan musyawarah, yang pada saat ini masih dirasakan meskipun banyak mendapat pengaruh dari gagasan ideologis dan ekonomis ke desa. Pada masyarakat pedesaan masih ditemui gotong-royong dalam berbagai hal, seperti: menyiapkan pesta, membangun rumah, perkawinan, khitanan, atau kematian. Sementara itu, gotong-royong sudah sangat sulit untuk ditemukan pada masyarakat kota. Masyarakat kota saat kini cenderung lebih individualis.
14.    Nilai dan Sistem Nilai
Pada masyarakat pedesaan, nilai-nilai yang ada masih dipegang kuat oleh anggotanya. Namun dalam masyarakat pedesaan nilai-nilai pendidikan belum memiliki orientasi bernilai penuh bagi penduduk desa, cukup dengan bisa membaca dan menulis dan pendidikan agama. Dalam hal nilai ekonomi, terlihat pada pola usaha taninya yang masih bersifat subsistem tradisional, kurang berorientasi pada ekonomi. Sementara nilai-nilai sosial pada masyarakat kota cenderung luntur karena tidak dipegang teguh oleh para anggotanya.




Sabtu, 17 Desember 2011

Transportasi Publik

Transportasi Publik di Ibu Kota Negara
by: Nisa K.H

Transportasi publik atau yang lebih dikenal dengan istilah angkutan umum merupakan suatu hal yang tidak asing lagi bagi masyarakat. Angkutan umum merupakan salah satu sarana yang mampu mempermudah masyarakat untuk berpergian dari suatu tempat ke tempat lain.

 Pengertian angkutan umum itu sendiri menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum adalah “angkutan dari pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan”.

Sementara menurut UU No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, angkutan umum merupakan setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk digunakan oleh umum dengan dipungut bayaran.

Dan yang terakhir adalah pengertian angkutan umum berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1993, angkutan umum adalah pemindahan orang dan/atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan umum dengan dipungut biaya.

Angkutan umum, khususnya angkutan orang yang diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 68 Tahun 1993 telah diperbaharui dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 84 Tahun 1999 dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 35 Tahun 2003. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum definisinya adalah “setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut biaya baik langsung maupun tidak langsung”.

Setelah mengetahui mengenai apa itu angkutan umum, disini akan dibahas lebih lanjut mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkait dengan adanya angkutan umum.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki jumlah penduduk tinggi. Faktor inilah yang menuntut pemerintah untuk lebih memperhatikan sektor transportasi. Pemerintah dituntut untuk mengambil keputusan yang tepat sasaran karena jika salah mengambil keputusan maka akan berimbas pada masyarakat secara luas.

Pada beberapa waktu yang lalu pemerintah telah mencanangkan program yang bertujuan memaksimalkan daya guna angkutan umum untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. Jakarta merupakan sebuah kota yang memiliki jumlah penduduk tinggi. Perubahan masyarakat menuju masyarakat modern telah merubah pola hidup dari masyarakat kota. Mereka cenderung tergiur dengan pola hidup yang cepat dan terbilang canggih. Masyarakat cenderung beralih dari angkutan umum menuju kendaraan pribadi. Masyarakat kota memiliki anggapan bahwa dengan memiliki kendaraan pribadi akan lebih mempermudah mereka untuk bepergian. Alasan lainnya adalah adanya prestige ketika mereka memiliki kendaraan pribadi. Namun pemikiran yang seperti inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya kemacetan di Jakarta. Pertambahan kendaraan pribadi yang setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan ini yang kemudian menjadi faktor  terjadinya kemacetan di Jakarta.

Namun sepertinya program pemerintah untuk mengalihkan minat masyarakat terhadap angkutan umum tidak terlaksana dengan baik. Seringkali pemerintah mengambil kebijakan yang justru mengakibatkan kekacauan pada sistem transportasi di Indonesia.

 Masih banyak terjadi kegagalan pemerintah dalam pengadaan angkutan umum. Bagaimana masyarakat mau untuk beralih terhadap angkutan umum, jika angkutan umum yang ada masih belum memenuhi standar kelayakan angkutan umum. 

Contoh kongkrit dari ketidakmampuan pemerintah yaitu gagalnya penerapan sistem pada KRL di Jakarta. Selain itu juga tidak efektifnya penerapan sistem Trans Jakarta.

Pada awalnya Trans Jakarta merupakan salah satu angkutan umum yang disediakan pemerintah untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. Namun,pada akhir-akhir ini justru angkutan umum tersebut seringkali memakan korban. Seringkali kita dengar mengenai masyaraakat yang tewas tertabrak Trasn Jakarta. Belum jelas sebabnya. Entah dikarenakan  faktor pengemudi yang kurang waspada ataupun sikap masyarakat yang sering menerobos jalur TransJakarta. Selain itu juga terdapat masalah mengenai perluasan jalur Trans Jakarta yang tidak efisien. Banyak sekali titik pemberhentian yang dibiarkan begitu saja tanpa ada kejelasan mengenai pengelolaannya.  Sehingga banyak alat perlengkapan yang dijarah oleh masyarakat sekitar.

Selain masalah Trans Jakarta, masalah yang terkait dengan angkutan umum lainnya yaitu terkait dengan KRL yang ada di Jakarta. Pemerintah mengambil kebijakan untuk memperbarui pola perjalanan KRL. Namun, kebijakan tersebut justru menimbulkan kekacauan. Kekacauan mewarnai hari pertama pada uji coba opla perjalanan KRL yang baru. Banyak penumpang yang merasa bingung dan juga harus menunggu lama kedatangan kereta. Bahkan di stasiun manggarai terjadi kericuhan karena ketidaktahuan perubahan jadawal KRL. Pemerintah telah menetapkan sistem yang baru, namun sangat disayangkan karena sosialisasi yang kurang sehingga banyak penumpang yang merasa kecewa terhadap kinerja PT. KAI.

Masalah lainnya yang terkait dengan angkutan umum asalah peristiwa pemerkosaan yang terjadi di dalam angkot di Jakarta, Kecelakaan Kapal Sri Murah Rejeki di Bali, tenggelamnya kapal Dewi Putri Tunggal di Sumenep, hingga terbakarnya KM Marina Nusantara di Banjarmasin, serta pemberhentian secara resmi rencana pembangunan monorel Jakarta oleh Gubernur Jakarta.

Angkutan umum saat ini justru menjadi momok yang menakutkan. Banyak terdengar berita mengenai pemerkosaan di dalam angkot. Seperti artikel yang terdapat di situs Yahoo. Pada tanggal 14 Desember 2011 terjadi kembali pemerkosaaan di dalam angkot. Korban mengalami peristiwa tragis tersebut pada Rabu dini hari ketika korban akan pergi ke Pasar.

Angkutan umum mungkin mampu dijadikan sebagai alternative dalam penyelesaian masalah kemacetan di Jakarta. Namun hingga saat ini pemerintah belum mampu untuk menciptakan suatu angkutan umum yang berkualitas bagi masyarakatnya. Masih banyak permasalahan klasik yang belum juga menemukan solusi yang efektif. Dan jika memang pemerintah menginginkan untuk menjadikan angkutan umum sebagai alternative kemacetan di Jakarta maka sebaiknya pemerintah harus mulai berbenah dan lebih memikirkan kebijakan-kebijakan yang akan diambil.

sumber: karkady.wordpress.com




Teori Sosiologi (Klasik)

Ferdinand Toennies
by: Nisa K.H.
Sosiologi merupakan suatu bagian ilmu sosial yang mengkaji fenomena yang terkait dengan masyarakat. Banyak sekali tokoh yang menitikberatkan pperhatiannya pada Sosiologi. Salah satu tokoh tersebut adalah Ferdinand Toennies.
Ferdinand Toennis lahir di Schleswig, Jerman Timur pada tahun 1855 dan wafat pada tahun 1936. Hasil karyanya yang terkenal adalah teori perubahan masyarakat Gemeinschaft dan Gesellschaft. Diakhir usianya Tonnies merupakan sosok yang aktif dalam menentang gerakan NAZI di Jerman dan seringkali diundang menjadi profesor tamu di University of KieL. 
Masyarakat merupakan karya ciptaan manusia sendiri. Masyarakat bukan organisme yang dihasilkan oleh proses-proses biologis, juga bukan mekanisme yang terdiri dari bagian-bagian individual yang masing-masing berdiri sendiri, sedangkan mereka didorong oleh naluri spontan yang bersifat menentukan bagi manusia. Masyarakat adalah usaha manusia untuk mengadakan dan memelihara relasi timbal balik yang mantap. Kemauan manusia mendasari masyarakat. Berkenaan dengan kemauan itu Tonnies membedakan antara Zweekwille dan triebwille. Zweekwille merupakan suatu tindakan yang hendak mencapai tujuan tertentu dan mengambil tindakan rasional kearah itu. Sementara Triebwille mengikuti sejumlah tindakan yang tidak didasarkan pada perhitungan akal, melainkan dari watak, hati, atau jiwa yang bersangkutan. Triebwille paling menonjol pada kalangan kaum petani, seniman, rakyat sederhana, khususnya wanita dan generasi muda. Sementara zweekwille lebih menonjol pada kalangan pedagang, ilmuwan, dan pejabat-pejabat.
Distingsi tersebut secara langsung berpengaruh pada corak dan interaksi orang dalam kelompok atau masyarakatnya. Sehingga Tonnies membedakan masyarakat kedalam dua tipe, yaitu:
1.       Gemeinschaft (Paguyuban)
Merupakan bentuk kehidupan bersama dimana anggotanya diikat dalam hubungan batin yang murni, bersifat alamiah dan kekal. Dasar hubungan adalah rasa cinta dan persatuan batin yang juga bersifat nyata dan organis sebagaimana dapat diumpamakan peralatan hidup tubuh manusia atau hewan. Tipe gemeinschaft ini cenderung sesuai dengan tipe triebwille.
Tonnies menyebut sebagai contoh keluarga, lingkungan tetangga, sahabat-sahabat, serikat pertukangan dalam abad pertengahan, gereja,desa, dll. Dimana para anggota dipersatukan  dalam perilaku sosial mereka oleh ikatan persaudaraan, simpati, perasaan lainnya sehingga mereka terlibat secara phsikis. Ketiga unsur yang menyokong gemeinschaft adalah:
·      Gemeinschaft by blood
Merupakan tipe gemeinschaft yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan.
·      Gemeinschaft of place
Merupakan tipe gemeinschaft yang didasarkan pada tempat tinggal yang saling berdekatan sehingga dimungkinkan untuk dapat saling tolong menolong.
·      Gemeinschaft of mind
Merupakan tipe gemeinschaft yang didasarkan pada ideology atau pikiran yang sama.
2.       Gesellschaft (Patembayan)
Merupakan bentuk kehidupan bersama yang merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya untuk jangka waktu yang pendek. Gesellschaft bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka, serta stukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan sebagai sebuah mesin. Gesellschaft ini lebih cenderung sesuai dengan tipe zweekwille.
Menurut Tonnies, teori gesellschaft berhubungan dengan penjumlahan atau kumpulan orang yang dibentuk atau secara buatan.  Tonnies memakai istilah “hidup yang organis dan nyata” untuk relasi yang berlaku dalam gemeinschaft, dan istilah “struktur yang khayal dan mekanis” untuk relasi yang berlaku dalam gesellschaft. Namun Tonnies tidak pernah mengatakan bahwa tipe masyarakat gemeinschaft sama dengan organism, dan tipe masyarakat gesellschaft adalah (sama dengan mekanisme). Sebaliknya, ia menolak ralisme maupun nominalisme, yang keduanya sejak aristoteles selalu dibandingkan oleh filsuf-filsuf dan telah menghasilkan dua gambaran masyarakat yang ekstrem. Ia hanya bertujuan untuk menggambarkan atas cara abstrak dan dengan memakai konsep-konsep dua bentuk atau tipe kehidupan bersama yang berbeda-beda dan merupakan dua kemungkinan abstrak.
Sebagaimana telah dikatakan oleh Cooley, bahwa konsep-konsep egoism dan altruism, pilihan bebas dan kewajiban sosial, hanya saling menolak di bidang konseptual saja, namun pada kenyataannya mereka tetap terjalin menjadi satu hidup, demikian juga halnya dengan konsep gemeinschaft dan gesellschaft. Dalam kenyataan praktis mereka tidak saling menolak, sebab tidak mungkin ada gemeinschaft tanpa cirri-ciri gesellschaft dan begitu pula sebaliknya. Misalnya, keluarga tradisional dan masyarakat desa, yang merupakan contoh gemeinschaft tidak akan dapat bertahan terus-menerus. Seandainya tidak ada peraturan, undang-undang, sistem kepemimpinan dan sistem peradilan. Sekalipun orang tsb didorong oleh idealism dan kemauan baik dan menggabungkan diri kedalam suatu gemeinschaft, mereka tetap membutuhkan beberapa kepastian yang menyangkut rejeki dan kebutuhan lain. Namun dilain pihak, walaupun suatu perusahaan atau administrasi negara diatur dan diselenggarakan secara birokratis dan rasional menurut gambaran gesellschaft, unsur-unsur manusia yang nonrasional akan tetap ikut memainkan peran dan mempengaruhi interaksi oraang yang bersangkutan Sama sebagaimana zweekwille dan triebwille yang selalu terjalin.
Tonnies menegaskan, bahwa setiap relasi selalu mengungkapkn ketunggalan dalam kebhinekaan, dan kebhinekaan dalam ketunggalannya. Hanya saja kalau kita membuat suatu deskripsi yang umum dan abstrak, kita mempertentangkan unsure yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, kita berkata bahwa seorang seniman mengharapkan penghargaan, sedang seorang pedagang mengharapkan keuntungan. Ini merupakan suatu pertentangan abstrak dan generalisasi. Sebab dalam kenyataan hidup kedua hal tersebut tampak dalam keadaan tercampur. Seniman juga harus mencari uang dan pedagang sebagai manusia juga menginginkan penghargaan. Begitu pula dengan kedua tipe masyarakat, mereka selalu berbentuk campuran. Pola interaksi yang berlaku dalam gemeinschaft dan  pola yang berlaku dalam gesellschaft tidak saling menolak atau bertentangan. Tiap relasi mengandung dua aspek, selalu ada dua hal yang saling terkait dan tidak mungkin dipisahkan. Namun demikian, dalam tipe gemeinschaft unsure hukum, peraturan, dan disiplin kurang diperhatikan dan sama menjonjol seperti dalam gesellschaft, sedang unsure perasaan dan solidaritas, yang berasall dari penghargaan (triebwille) tidak begitu menonjol dalam gesellschaft)

Sumber: Triyono dkk. 2011. Makalah Teori Sosiologi Klasik : Ferdinand Toennies. Yogyakarta

Senin, 12 Desember 2011

WISATA ALAM

Wisata Pantai Pasir!
Ada pintu gerbang Nyi Roro Kidul indah memikat dan menarik menyongsong kedatangan Anda. Sebuah fenomena alam yang hanya dapat Anda saksikan di sini.
L egenda Nyi Roro Kidul tidak dapat dipisahkan dari Pantai Selatan Laut Jawa. Hal ini diperkuat lagi oleh beberapa peninggalan dan petilasannya yang konon ditinggalkannya di beberapa tempat, yang masih dapat kita saksikan saat ini. Keberadaan peninggalan-peninggalan inilah yang menyebabkan Pantai Selatan Laut Jawa sepertinya mempunyai daya magnit yang begitu kuat sehingga selalu mengundang wisatawan untk datang dan datang lagi.
Salah satu dari pantai-pantai tersebut adalah Pantai Pasir, yang terletak di Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Pantai ini dapat dikatakan terlengkap dibandingkan pantai-pantai lain. Selain diapit oleh dua pegunungan yang membuat pemandangan indah, pantai ini juga menjadi lahan para nelayan untuk menunjang kehidupan rutinnya sehari-hari. Tiap hari puluhan jongkong berjejer di pantai itu, kecuali jongkong-jongkong yang melaut. Pemandangan seperti ini merupakan ciri khas dan spesifik pantai nelayan. Di pantai ini, juga terdapat tempat pelelangan ikan (TPI) dan penangkaran ubur-ubur.

Yang paling menarik untuk diperhatikan adalah batu karang berbentuk pintu gerbang. Pintu gerbang penuh misteri ini adalah Pintu Gerbang Nyi Roro Kidul. Dari kejauhan, pintu gerbang yang memikat ini terlihat seperti seekor beruang yang sedang minum air laut.

Keberadaan pintu gerbang yang satu-satunya itu, semakin mencuatkan nama Pantai Pasir sebagai objek wisata di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Dan ini pulalah panorama indah yang disajikan untuk Anda

sumbver: http://www.kebumen.itgo.com/anyar/pantaipasir.htm