Rabu, 11 Januari 2012

sospar

MAKALAH SOSIOLOGI PARIWISATA
PERAN PARIWISATA TERHADAP PERKEMBANGAN
KOTA YOGYAKARTA
Dosen Pengampu: V. Indah Sri Pinasthi, M.Si.


Disusun oleh:
Nisa Karimah Hakim                   ( 10413244012 )






PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011

KATA PENGANTAR

                Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Sosiologi Pariwisata yang bertema Peran Pariwisata terhadap Perkembangan Kota Yogyakarta.
Makalah ini dibuat guna memenuhi dan melengkapi nilai tugas pada mata kuliah Sosiologi Pariwisata. Tak lupa pula Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu V. Indah Sri Pinasthi, M.Si selaku dosen mata kuliah Sosiologi Pariwisata yang telah membimbing penulis dalam proses penyusunan makalah ini.
            Penulis menyadari bahwa makalah yang penulis buat ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, Penulis mengharap kritik dan saran yang membangun.
            Semoga makalah ini dapat berguna dan memberikan manfaat bagi para pembaca, khusunya untuk penulis.
                                                                                                                     
                                                                                                Yogyakarta, Desember 2011
                                                                                                           
                                                                                                Penulis








BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Yogyakarta merupakan kota yang terkenal akan pariwisatanya. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke Yogyakarta hanya sekedar menghabiskan waktu luang. Tidak dapat dipungkiri bahwa Yogyakarta merupakan salah satu kota yang memiliki tempat-tempat wisata yang menarik wisatawan., misalnya saja Malioboro, Parangtritis, Kaliurang, Candi Prambanan, dan masih banyak lainnya.  Dari tahun ke tahun sektor pariwisata yang ada di Kota Yogyakarta semakin berkembang. Perkwmbangan tersebut secara disadari maupun tidak, pasti akan membawa dampak pada perkembangan kota Yogyakarta. Dampak tersebut dapat berupa dampak positif, namun juga dapat berupa dampak negatif. Untuk itu penulis akan membahas mengenai bagimana pariwisata mempunyai peranan yang cukup penting bagi perkembangan kota Yogyakarta.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pariwisata?
2.      Bagaimana ciri-ciri pariwisata?
3.      Faktor apa saja yang membuat Yogyakarta menjadi tujuan wisata?
4.      Bagaimana peran pariwisata terhadap perkembangan Kota Yogyakarta?
C.     Tujuan
1.    Mengetahui pengertian pariwisata.
2.    Mengetahui ciri-ciri pariwisata.
3.    Mengetahui faktor apa saja yang membuat Yogyakarta dijadikan sebagai daerah tujuan wisata.
4.    Mengetahui bagaimana peran pariwisata terhadap perkembangan Kota Yogyakarta.










BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Pariwisata
Pariwisata merupakan suatu perjalanan yang dilakukan dengan tujuan untuk berlibur maupun rekreasi. Menurut Undang-Undang No.10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.
Menurut A.J. Burkart dan S. Medik (1987) , pariwisata adalah perpindahan orang untuk sementara dalam jangka waktu pendek ke tujuan-tujuan dimana mereka biasanya hidup dan bekerja dan kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal di tempat tujuan tersebut.
Menurut Prof Salah Wahab, Pariwisata merupakan suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar yang mendapat pelayanan secara bergantian diantara orang-orang dalam suatu negara itu sendiri atau diluar negeri, meliputi pendiaman orang-orang dari daerah lain untuk sementara waktu mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialaminya, dimana ia memperoleh pekerjaan tetap.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadikan suatu daerah menjadi tujuan wisata, yaitu:
1.    Unik dan Menarik
Hal ini dilihat dari budaya, kebiasaan masyarakatnya.
2.    Keadaan alam
Keadaan alam yang terjaga dengan baik akan membuat banyak orang tertarik dengan hal tersebut. Keasrian alam yang lestari menjadikan daya tarik sendiri bagi wisatawan.
3.    Lingkungan
Hal ini mencakup aspek kebersihan dan kedisiplinan dari masyarakatnya.


4.    Masyarakat
Sikap dari masyarakat yang mau bekerja sama dengan bersikap ramah juga menjadi hal yang cukup penting. Sikap ramah yang ada mampu membuat wisatawan merasa nyaman dan betah untuk mengunjungi tempat tersebut.
       Selain itu juga harus memenuhi aspek keamanan, ketertiban, dan juga indah.

B.       Ciri-Ciri Pariwisata
John Urry (1990) menyebutkan bahwa pariwisata mempunyai ciri-ciri seperti:
1.    Pariwisata merupakan aktivitas bersantai atau aktivitas waktu luang. Perjalanan wisata bukan merupakan suatu kewajiban dan pada umumnya dilakukan saat seseorang bebas dari pekerjaan yang harus (wajib) dilakukan, yaitu pada saat mereka cuti atau libur.
2.    Hubungan pariwisata terjadi karena adanya pergerakan manusia. Pergerakan ini dengan dimensi ruang dan waktu. Gerakan dan kunjungan yang bersifat sementara mempunyai sifat yang berbeda dengan perpindahan penduduk secara permanen.
3.    Dilihat dari sisi wisatawan, pariwisata adalah aktivitas yang dilakukan pada tempat dan waktu yang tidak normal. Tetapi ‘ketidaknormalan’ ini hanya sementara dan pelaku mempunyai keinginan yang pasti untuk kembali ke situasi normal atau ke tempat asalnya.
4.    Tempat dan attraksi yang dinikmati wisatawan adalah tempat dan atau peristiwa yang tidak langsung berhubungan dengan pekerjaan atau penghidupan wisawatan.
5.    Cukup banyak proporsi dari penduduk masyarakat modern terlibat dalam kegiatan pariwisata, sehingga pariwisata telah menjadi wahana sosialisasi baru. Hal tersebut berkaitan dengan pergerakan wisatawan secara massal.
6.    Destinasi wisata yang dikunjungi seringkali dipilih berdasarkan khayalan atau fantasi, atau karena image obyek wisata yang bersangkutan. Fantasi dan citra ini terbentuk dan terpelihara bukan saja melalui aktivitas kepariwisataan, melainkan juga kegiatan non-pariwisata, seperti karya akademis, pertemuan akademis, dan media massa.
7.    Perjalanan wisata adalah sesuatu yang bersifat tidak biasa. Pengalaman yang diharapkan adalah pengalaman yang lain dari biasanya, atau sesuatu yang baru. Kualitas perjalanan salah satu faktor penentunya yaitu kuantitas dan kualitas dari pengalaman baru tadi.
8.    Peranan simbol dan penanda sangat besar dalam keberhasilan sebuah destinasi wisata. Simbol dan penanda ini erat kaitannya dengan citra atau pencitraan.
9.    Setiap destinasi wisata selalu mengalami pembaharuan dan penambahan produk-produk baru. Pengembangan produk baru ini mempunyai implikasi yang sangat luas terhadap budaya, karena munculnya pro-kontra terhadap berbagai modifikasi kebudayaan dalam pengembangan produk baru tersebut biasanya dilakukan oleh para professional dalam bidang pariwisata.

C.     Yogyakarta sebagai Tujuan Wisata
Indonesia merupakan sebuah negara yang terdiri dari banyak pulau-pulau, dimana masing-masing daerah atau wilayah memiliki ciri khas masing-masing. Keadaan yang demikian menyebabkan Indonesia menjadi masyarakat multikultural dengan tingkat heterogenitas yang cukup tinggi. Keberagaman inilah yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang tengah mengadakan liburan. Banyak sekali tempat yang menjadi tujuan bagi para wisatawan. Salah satu diantaranya yaitu Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta merupakan kota yang terkenal dalam bidang pariwisatanya. Banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Yogyakarta setiap tahunnya. Bisa dikatakan bahwa Yogyakarta merupakan kota wisata terbesar kedua setelah Bali. Dari tahun ke tahun sektor pariwisata di Yogyakarta semakin mengalami peningkatan. Perkembangan ini tidak lepas dari beragamnya jenis obyek wisata yang ada, sarana dan prasarana, peran pemerintah, serta keterbukaan masyarakat dalam mendukung pariwisata kota Yogyakarta.

1.      Jenis-jenis obyek wisata yang ada di Kota Yogyakarta
·         Wisata Alam
Wisata alam yang ada di Yogyakarta beragam. Kota Yogyakarta memiliki banyak pantai sebagai salah satu wujud dari wisata alamnya, seperti: Pantai Parangtritis, Pantai Depok, Pantai Siung, dan masih banyak pantai indah lainnya. Selain itu juga ada Kaliurang. Kaliurang merupakan salah satu obyek wisata alam yang berada dekat dengan gunung merapi. Ada juga wisata alam lainnya, seperti Goa Rancang Kencono dan air terjun Sri Gethuk.
·         Wisata Budaya
Salah satu  tempat wisata budaya yang ada di Yogyakarta adalah Taman Budaya. Taman Budaya merupakan sebuah tempat atau bangunan yang sering digunakan sebagai tempat pementasan budaya, seperti ketoprak dan lainnya.
·         Wisata Kesenian
Banyak sekali tempat di Yogyakarta yang mengandung unsur kesenian, seperti pementasan Sendra Tari Ramayana di Kawasan Candi Prambanan, Pertunjukan wayang kulit setiap hari Sabtu di Sasono Hinggil, Pertunjukkan Gamelan di Keraton Yogyakarta setiap hari Kamis pada pukul 10.00-12.00.
·         Wisata Sejarah
Untuk mengetahui mengenai sejarah dari kota Yogyakarta, kita dapat berkunjung ke Keraton, Tamansari,Kotagede, Panggung Krapyak, Goa Siluman, dan Warungboto.
·         Wisata Pendidikan
Wisata yang mengandung unsur pendidikan dapat didapat ketika kita berkunjung ke Taman Pintar, Museum Affandi, Tugu Jogja, Monumen Jogja Kembali,Monumen 1 Maret, Benteng Vrederburg dan lain-lain. Banyak sekali tempat yang jika kita kunjungi akan menambah wawasan yang bermanfaat dalam bidang pendidikan.
·         Wisata Kuliner
Yogyakarta merupakan kota wisata yang juga terkenal dalam kulinernya. Masakan kuliner khas Yogyakarta adalah Gudeg. Selain Gudeg, juga ada masakan lainnya seperti oseng-oseng mercon dan juga angkringan.
·         Wisata Belanja
Salah satu tempat yang paling terkenal akan wisata belanjanya yaitu Malioboro. Malioboro seolah sudah menjadi icon dari kota Yogyakarta dalam hal belanja. Masih dalam kawasan Malioboro juga terdapat pusat grosir yang cukup besar, yaitu Pasar Beringharjo. Barang-barang yang ditawarkan pada kedua tempat tempat tersebut sangat terjangkau, sehingga banyak wisatawan yang berdatangan hanya untuk berbelanja.



·         Wisata Arsitektur
Wisata arsitektur dapat dilihat dengan mengunjungi Loji, Bintaran, dan Kotabaru. Kotabaru menyajikan wisata mengenai arsitektur peninggalan Belanda.
·         Wisata Ziarah
Untuk tujuan wisata ziarah ada masjid Kotagede dan juga Ganjuran.

2.      Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan suatu aspek yang juga mendukung kegiatan pariwisata di Yogyakarta. Tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai, maka para wisatawan akan enggan untuk datang kembali ke Yogyakarta karena tujuan mereka untuk berwisata akan terganggu dengan tidak adanya sarana dan prasarana yang memadai. Saat ini sudah banyak hotel yang berdiri di tengah kota Yogyakarta. Tercatat ada 37 Hotel berbintang dan 1011 hotel melati di seluruh DIY pada Tahun 2010. Tahun 2011 ini, hotel sudah merajalela sehingga para wisatawan tidak perlu khawatir mengenai tempat penginapan karena telah tersedia hotel dari yang murah sampai yang mahal. Kegiatan usaha pendukung pariwisata juga sudah lengkap. Pada tahun 2007 saja sudah terdapat 58 Biro Perjalanan, 540 pramuwisata berlisensi, 70.000 industri kerajinan tangan, fasilitas transportasi yang lengkap, money changer, bermacam-macam industri jasa boga serta keamanan khusus wisata yang disebut Bhayangkara Wisata.

3.      Peran Pemerintah
Peran pemerintah Yogyakarta sudah cukup aktif dalam mendukung dan mengadakan even-even yang bertujuan untuk memajukan pariwisata di Kota Yogyakarta. Pemerintah seringkali mengadakan even-even baik yang berskala nasional maupun internasional, seperti: Jogja Java Carnival, Sekatenan, Festival Kesenian Biennale ajang pameran seni rupa yang diadakan setiap 2 tahun sekali.
4.      Keterbukaan Masyarakat
Keterbukaan masyarakat terlihat dengan sikap mereka yang mendukung dibukanya kota Yogyakarta sebagai Kota Wisata. Ketika ada wisatawan yang datang berkunjung mereka akan bersikap ramah. Hal-hal kecil yang ditunjukkan oleh masyarakat inilah yang membuat image tersendiri bagi Kota Yogyakarta dimata wisatawan, baik wisatawan domestic maupun wisatawan mancanegara.

D.     Peran Pariwisata terhadap Perkembangan Kota Yogyakarta
Pariwisata merupakan sektor yang penting dan utama bagi Yogyakarta. Banyaknya obyek wisata dan juga daya tarik dari Yogyakarta telah mendatangkan banyak kunjungan dari para wisatawan. Pada Tahun 2010 tercatat kunjungan wisatawan sebanyak 1.456.980 orang, dengan rincian 152.843 wisatawan mancanegara dan 1.304.137 wisatawan domestic. Letak DIY yang strategis sangat menguntungkan bagi sektor pariwisata Yogyakarta, dimana jarak tempuh antara lokasi obyek wisata yang satu dengan yang lain terhitung dekat dan mudah dijangkau. Contohnya saja antara obyek wisata Keraton yang berdekatan dengan Taman Sari, Taman Pintar, Taman Budaya, dan juga Alun-Alun Utara.
Sektor pariwisata dapat dikatakan memiliki peranan yang sangat utama dalam perkembangan kota Yogyakarta. Pariwisata menjadi motor penggerak perekonomian Yogyakarta, yang secara umum bertumpu pada sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta pertanian. Secara langsung maupun tidak langsung, disadari maupun tidak disadari pariwisata yang ada telah membawa dampak terhadap kehidupan masyarakat Yogyakarta, baik itu dampak secara ekonomi, sosial, maupun budaya.
1.      Dampak secara Ekonomi
Dampak secara ekonomi dari adanya pariwisata akan berpengaruh pada lingkungan sekitarnya, baik itu masyarakat secara umum maupun pemerintah.
·           Dampak terhadap Masyarakat
Dampak dari adanya pariwisata tentunya akan membawa dampak bagi masyarakat yang berada dalam lingkungan daerah wisata. Adanya pariwisata mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan taraf hidup dari masyarakat sekitarnya. Setiap kawasan wisata pasti memerlukan sarana dan prasarana sebagai penunjang adanya kawasan wisata tersebut, seperti akomodasi, restoran, dan perhotelan. Akomodasi tidak hanya disediakan oleh agen-agen wisata tetapi ada alternatif lain seperti taxi. Ketika suatu daerah menjadi sebuah tujuan wisata pasti akan memerlukan transportasi untuk mencapai tujuan wisata tersebut, dan taxi merupakan salah satu yang bisa digunakan.  Ketika jumlah permintaan akan jasa taxi semakin meningkat, pasti para pemilik jasa angkutan tersebut akan berfikir untuk menginvestasikan lebih banyak taxi karena keuntungannya yang menjanjikan. Dan jika hal tersebut terjadi maka pemilik jasa angkutan akan memerlukan karyawan untuk dijadikan sebagai supir atau pengemudi. Kebutuhan akan karyawan ini dapat diantisipasi dengan merekrut masyarakat sekitar yang berkompeten dan memiliki kemampuan dalam bidang berkendara. Saat ini di sekitar kawasan Malioboro dan Jalan Solo sudah banyak sekali taxi yang berlalu-lalang di jalanan.
Begitu pula dengan jasa penginapan/ perhotelan. Ketika suatu daerah sudah menjadi kawasan wisata maka akan banyak investor yang berfikir untuk menanamkan sahamnya dengan mendirikan hotel-hotel , baik itu hotel berbintang maupun hotel biasa. Sebuah hotel pastinya akan memerlukan banyak karyawan guna melayani para pengunjung yang datang. Kebutuhan karyawan ini juga bisa diantisipasi dengan merekrut masyarakat sekitar. Perkembangan pembangunan hotel-hotel ini dapat kita saksikan di daerah Malioboro, yaitu Jalan Pasar Kembang.
Selain dalam hal jasa transportasi dan perhotelan, masyarakat juga dapat untuk membuka usaha sendiri. Masyarakat dapat membuka usaha seperti usaha souvenir. Jika seseorang berkunjung ke suatu daerah pasti mereka akan membeli oleh-oleh yang merupakan kerajinan khas dari daerah yang dia kunjungi untuk sanak keluarga di daerah asalnya. Di pinggiran Jalan Malioboro sekarang ini sudah banyak sekali penjual yang menjajakan hasil karya mereka guna menambah penghasilan bagi keluarganya.
Adapun dampak negatif dari pariwisata secara ekonomi, yaitu terjadinya inflasi. Inflasi terjadi karena jumlah uang yang beredar dalam masyarakat terlalu banyak sehingga nilai dari uang tersebut menjadi turun. Ketika nilai uang menjadi menyusut sementara pendapatan yang diperoleh masyarakat tetap maka masyarakat akan mengalami kebimbangan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.
·           Dampak terhadap Pemerintah
Dampak yang dirasakan manfaatnya oleh pemerintah adalah bertambahnya pendapatan daerah dengan adanya pajak dan devisa. Setiap daerah yang dijadikan obyek wisata sudah pasti harus membayar pajak bagi pemerintahan daerah yang berupa pajak bumi dan bangunan. Selain PBB, pemerintah juga memperoleh pendapatan dari retribusi parkir kendaraan yang mengunjungi obyek wisata, pajak dari tempat makan di sekitar obyek wisata, dan lain-lain. Kedatangan turis mancanegara juga turut andil dalam meningkatkan pendapatan suatu daerah. Banyaknya turis mancanegara yang berkunjung maka akan semakin banyak pula devisa yang didatangkan. Ketika pendapatan suatu daerah meningkat maka anggaran dalam sektor pariwisata juga akan meningkat. Jika suatu tempat telah menjadi icon wisata maka pemerintah juga akan memperhatikan tempat tersebut karena bisa dijadikan sebagai ladang untuk meningkatkan pendapatan daerahnya. Hal yang biasa dilakukan pemerintah , yaitu dengan meningkatkan kualitas hidup, baik itu wisatawan maupun masyarakat sekitar. Contohnya saja dengan kebijakan pemerintah yang melakukan pembangunan infrastruktur seperti sarana transportasi, fasilitas umum seperi toilet,  dan juga ketersediaan air.
2.      Dampak secara Sosial-Budaya
Dampak sosial budaya yang timbul karena perkembangan pariwisata di kota Yogyakarta sangatlah beragam. Ada dampak positif dan ada pula dampak negatifnya.
Dampak positif dari adanya pariwisata di Kota Yogyakarta adalah menambah lahan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja dari masyarakat Yogyakarta. Penyerapan tenaga kerja ini secara otomatis mampu untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakatnya karena mereka bisa memperoleh pendapatan dari sektor pariwisata ini. Misalnya saja penjual yang ada di sekitaran kawasan Mallioboro. Dengan dijadikannya kawasan tersebut sebagai tempat wisata yang memiliki banyak peminat, maka para penjual ini juga memiliki kemungkinan yang semakin meningkat pula dalam menjual hasil karya seni mereka guna mendapat penghasilan.
Sementara dampak negatif dari adanya pariwisata yaitu lunturnya nilai-nilai kearifan lokal, adanya prostitusi, dan  pergaulan dunia malam (dugem). Hilangnya kearifan lokal disebabkan karena adanya interaksi dengan masyarakat luar, khususnya wisatawan mancanegara. Meskipun kedatangan para wisatawan bersifat sementara, namun hal tersebut berlangsung selama bertahun-tahun. Setiap tahun pasti ada saja wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Yogyakarta. Hal tersebut memunculkan trend baru. Dimana kalangan muda cenderung meniru perilaku dari para wisatawan mancanegara agar dinilai sebagai anak gaul. Jika semua kalangan muda Yogyakaarta memilih untuk meniru gaya para wisatwan , lalu siapa yang akan meneruskan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyangnya terdahulu? .Anak muda saat ini seolah sudah meninggalkan budaya yang mereka miliki karena dianggap sudah ketinggalan zaman. Padahal salah satu faktor yang menyebabkan para wisatawan berkunjung ke Yogyakarta adalah kebudayaan yang ada di Yogyakarta. Namun sayang, anak muda saat ini lebih memilih gaya kebarat-baratan daripada menjaga nilai-nilai luhur dari nenek moyangnya. Anak muda Yogyakarta saat ini lebih suka music jazz daripada berlatih gamelan, lebih memilih makan di KFC daripada di angkringan. Disadari maupun tidak, pariwisata telah membuat masyarakat yang hedonis. Gaya dari para wisatawan yang suka minum-minuman keras juga ditiru oleh anak muda. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya anak muda yang setiap malamnya pergi ke tempat DUGEM.
 Perhotelan di wilayah Yogyakarta semakin tahun semakin meningkat seiring dengan meningkatnya predikat Yogyakarta sebagai daerah wisata. Hotel-hotel mulai dibangun di sekitar kawasan wisata Yogyakarta. Untuk saat ini tersedia banyak sekali hotel di Yogyakarta, mulai dari harga yang murah sampai yang mahal. Banyaknya hotel-hotel yang didirikan ini membuka kemungkinan bagi para pelaku penyimpangan untuk berbuat hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai dan budaya yang ada dalam masyarakat. Contohnya saja hotel-hotel pada kawasan wisata seperti Kaliurang, Parangtritis, dan Malioboro. Ditempat-tempat tersebut banyak sekali didirikan hotel. Terjadinya prostitusi juga didukung dengan kurangnya kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat cenderung menganggap bahwa hal tersebut sudah biasa. Selain itu, masyarakat juga cenderung berfikir bahwa para wisatawan datang untuk berwisata dan wisata itu tujuannya untuk bersenang-senang sehingga masyarakat takut untuk menegur para pelaku penyimpangan karena takut jika wisatawan merasa terganggu dan tidak mau datang kembali.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pariwisata merupakan berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Pariwisata mempunyai beberapa ciri, seperti berikut: Pariwisata merupakan aktivitas bersantai atau aktivitas waktu luang; Hubungan pariwisata terjadi karena adanya pergerakan manusia; Dilihat dari sisi wisatawan, pariwisata adalah aktivitas yang dilakukan pada tempat dan waktu yang tidak normal; Tempat dan attraksi yang dinikmati wisatawan adalah tempat dan atau peristiwa yang tidak langsung berhubungan dengan pekerjaan atau penghidupan wisawatan; Pariwisata telah menjadi wahana sosialisasi baru; Destinasi wisata yang dikunjungi seringkali dipilih berdasarkan khayalan atau fantasi, atau karena image; Perjalanan wisata adalah sesuatu yang bersifat tidak biasa; Peranan simbol dan penanda sangat besar dalam keberhasilan sebuah destinasi wisata; Setiap destinasi wisata selalu mengalami pembaharuan dan penambahan produk-produk baru.
Yogyakarta merupakan sebuah kota yang menjadi daerah tujuan wisata terbesar kedua setelah Bali. Banyak sekali wisatawan berdatangan, baik domestic maupun mancanegara. Banyak faktor yang menyebabkan Yogyakarta menjadi daerah tujuan wisata, misalnya saja keberagaman jenis obyek wisata yang ada, sarana dan prasarana, peran pemerintah, serta keterbukaan masyarakat dalam mendukung pariwisata kota Yogyakarta.
Dapat dikatakan bahwa pariwisata merupakan sektor yang memiliki peran terpenting dalam perkembangan kota Yogyakarta. Pariwisata merupakan motor penggerak sendi-sendi kehidupan yang ada dalam masyarakat Yogyakarta. Perkembangan pariwisata yang ada di Yogyakarta secara otomatis juga memberikan pengaruh terhadap masyarakat sekitar. Pengaruh/dampak tersebut dapat berupa dampak positif maupun negatif. Dan dampak yang dirasakan oleh masyarakat Yogyakarta meliputi dampak ekonomi, sosial, dan budaya.







DAFTAR PUSTAKA

Yoeti, Oka.A. 1994. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Aksara
http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta, diakses pada tanggal 9 Desember 2011 pukul: 21:00
http://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata, diakses pada tanggal 10 Desember  2011 pukul: 08:00
http://mangkutak.wordpress.com/2009/01/05/dasar-pengertian-pariwisata/, diakses pada tanggal 6 Desember 2011 pada pukul: 20:36
http://wisatakandi.blogspot.com/2010/12/sosiologi-pariwisata-ciri-ciri.html, diakses pada tanggal 6 Desember 2011 pada pukul: 20:31

metode penelitian kuantitatif


PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF
PENGARUH PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DISKUSI TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN SOSIOLOGI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Dosen Pengampu: Grendi Hendrastomo



Disusun oleh:
Nisa Karimah Hakim      ( 10413244012 )


PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011

A.     Judul
PENGARUH PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DISKUSI TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN SOSIOLOGI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

B.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat vital dan diperlukan bagi perkembangan hidup manusia. Selain itu, pendidikan juga mempunyai peran yang besar dalam kemajuan sebuah bangsa. Adanya pendidikan diharapkan manusia dapat meningkat, dan berkembang seluruh potensi atau bakat alamiahnya sehingga menjadi manusia yang relatif lebih baik, lebih berbudaya, dan lebih manusiawi (Dwi Siswoyo dkk, 2008:1). Secara historis pendidikan sudah ada sejak keberadaan manusia itu sendiri. Seiring dengan perkembangan kehidupan manusia maka pendidikan juga ikut berkembang menyesuaikan perubahan yang ada.
Dalam dunia pendidikan terdapat 3 komponen sentral, yaitu pendidik, peserta didik, dan tujuan pendidikan. Untuk menciptakan pendidikan yang mampu mencetak orang-orang besar maka dituntut adanya keharmonisan dalam ketiga aspek tersebut. Namun, pendidikan yang terjadi saat ini nampaknya belum terwujud dengan baik. Pada kenyataannya banyak pendidik yang tidak mampu memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan, termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran ada dengan tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Suparman dalam Martinis Yamin dan Maisah (2009:135) strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran peserta didik, peralatan dan bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Suparman juga mengatakan bahwa strategi tersebut terdiri atas komponen-komponen seperti urutan kegiatan pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan waktu.
Komponen-komponen yang terdapat dalam strategi pembelajaran merupakan komponen yang penting bagi dunia pendidikan. Salah satu komponennya adalah metode pembelajaran. Istilah metode pembelajaran merupakan suatu istilah yang tidak asing lagi bagi pendidik. Setiap pendidik dituntut untuk menguasai berbagai aspek yang terkait dengan metode pembelajaran karena setiap periode pendidikan, pendidik akan menemukan situasi-situasi yang baru dengan peserta didik yang baru pula. Disini pendidik dituntut untuk mampu menerapkan dan memilih metode mana yang paling tepat untuk digunakan.
Tahap pendidikan yang paling tinggi tingkatannya adalah perguruan tinggi. Dimana dalam dunia pendidikan pada perguruan tinggi, khususnya Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Sosiologi hampir sebagian besar pendidik menerapkan metode diskusi dalam kelas. Hanya sedikit pendidik yang menerapkan metode ceramah, ataupun metode lainnya.
Untuk itu, penulis ingin mengkaji mengenai pengaruh yang muncul ketika pendidik menerapkan metode pembelajaran diskusi pada prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta.


C.     Identifikasi dan Pembatasan Masalah
1.      Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut.
a.    Kegiatan pembelajaran pada Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta hampir sebagian besar menggunakan metode pembelajaran diskusi.
b.    Sebagian besar pendidik menerapkan metode diskusi dalam proses belajar mengajar. Hanya terdapat sebagian kecil pendidik/dosen yang menggunakan metode pembelajaran selain metode diskusi.
c.    Dalam penerapan metode diskusi biasanya hanya beberapa mahasiswa yang turut berpartisipasi aktif didalamnya. Selain itu, penerapan metode diskusi menyebabkan sulitnya memprediksi hasil belajar siswa karena interaksi terjadi secara spontan. Metode diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang, sementara waktu yang ada terbatas.
d.   Prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi Uiversitas Negeri Yogyakarta cenderung tidak merata. Ada beberapa mahasiswa yang prestasi belajarnya tinggi, namun ada pula yang prestasi belajarnya tergolong rendah.

2.      Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, peneliti membatasi penelitian ini pada “Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta”.



D.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diidentifikasikan beberapa rumusan masalah, yaitu sebagai berikut.
a.    Bagaimana penerapan metode pembelajaran diskusi dalam pembelajaran Mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY?
b.    Bagaimana prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY dalam pembelajaran yang menerapkan metode pembelajaran diskusi?
c.    Apakah penggunaan metode pembelajaran diskusi mampu meningkatkan prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY?

E.      Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, tujuan yang hendak dicapai peneliti dalam penelitian adalah sebagai berikut.
a.    Untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran diskusi dalam proses pembelajaran mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY.
b.    Untuk mengetahui prestasi mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY dalam pembelajaran yang menerapkan metode pembelajaran diskusi.
c.    Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh metode pembelajaran diskusi dalam meningkatkan prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY.

F.      Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Manfaat Teoritis
Sebagai hasil karya ilmiah, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi penelitian-penelitian dengan tema yang sama atau relevan sehingga dapat memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu pada mahasiswa Pendidikan Sosiologi pada khususnya dan masyarakat umum pada umumnya mengenai gambaran tentang pengaruh penerapan metode pembelajaran guna meningkatkan prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY, selain itu juga dapat menambah informasi untuk mata kuliah sosiologi pendidikan, dan lain-lain.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi Peneliti
Menambah ilmu pengetahuan mengenai pengaruh metode yang diterapkan terhadap prestasi belajar peserta didik. Hal ini dapat dijadikan bahan kajian dalam proses pembelajaran ketika peneliti menjadi seorang pendidik.
b.      Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian diharapkan mampu untuk digunakan sebagai masukan peneliti-peneliti lain untuk mengadakan penelitian serupa di masa yang akan datang.
c.       Bagi Mahasiswa Pendidikan Sosiologi
Diharapkan dengan adanya hasil penelitian ini dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi dengan menemukan metode yang paling tepat dalam proses pembelajaran.
d.      Bagi Pendidik/Dosen Pendidikan Sosiologi
Dapat menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi mahasiswa yang pada akhirnya mampu untuk mengoptimalkan prestasi belajar mahasiswa.
e.       Bagi Institusi Terkait
Dengan meningkatnya prestasi belajar mahasiswa diharapkan instansi yang terkait dapat memperoleh suatu kebanggaan dan labellling dari masyarakat karena telah mampu mencetak mahasiswa yang berprestasi.

G.     Kerangka Teori
1.     Kajian Teori
a.       Belajar
1)      Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses dalam kehidupan manusia dalam memperoleh suatu pengetahuan. Belajar merupakan suatu hal yang selalu ada seiring dengan proses perkembangan hidup manusia. Belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh siswa dan aktivitas tersebut sangatlah kompleks. Menurut Dimyati dan Mudjiono dalam Rahmad Arifin (2011) siswa merupakan penentu terjadi atau tidak terjadinya proses belajar. Dengan adanya proses belajar, mahasiswa diharapkan mampu untuk berubah menuju ke arah yang lebih baik. Sehingga dengan adanya perubahan-perubahan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan penguasaan dan penambahan pengetahuan, motivasi, sikap, nilai, dan lainnya. Belajar bukan hanya bisa dilakukan dalam pendidikan formal. Pendidikan juga mampu dilaksanakan dalam pendidikan non-formal dan informal.
2)      Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar anak. Faktor tersebut adalah faktor intern yang berasal dari dirinya sendiri dan juga faktor ekstern yang berasal diluar dirinya atau lingkungannya.
a)      Faktor Intern
Faktor yang berasal dari dalam dirinya mencakup aspek jasmaniah dan rohaniah. Aspek jasmaniah terkait dengan kondisi fisik siswa, panca indera, dan lainnya. Setiap orang tentunya memiliki kondisi fisik yang berbeda-beda. Hal tersebut dapat kita lihat dari daya tubuh dalam belajar. Ada siswa/mahasiswa yang hanya mampu bertahan selama satu jam dalam belajar, namun ada pula yang mampu bertahan selama berjam-jam. Selain kondisi fisik, aspek lainnya adalah panca indera. Panca indera juga mempengaruhi proses belajar anak. Misalnya saja panca indera penglihatan. Dalam dunia perkuliahan sering kali pendidik menggunakan proyektor yang sudut pandangnya terbatas. Jika ada anak yang penglihatannya sudah terganggu (minus) dan berada dibagian belakang kelas, maka siswa tersebut akan mengalami kendala dalam mengikuti proses pembelajaran. Lain halnya dengan anak yang tidak mengalami gangguan penglihatan, meskipun dia berada dibelakang maka tidak akan mempengaruhi proses belajarnya.
Aspek rohaniah menyangkut kondisi kesehatan psikis, kemampuan intelektual, sosial, psikomotor, serta kondisi afektif dan konatif dari individu. Jika kondisi kesehatan psikis baik, maka akan mampu membuat seseorang untuk belajar tanpa adanya tekanan. Tekanan-tekanan dapat berupa tekanan batin maupun gangguan perasaan yang dapat menghambat proses belajar. Kondisi intelektual juga mempunyai peran yang penting dalam meraih hasil belajar. Selain itu juga terdapat aspek lainnya yang berupa kondisi sosial. Seseorang yang memiliki kondisi sosial ataupun hubungannya dengan orang lain yang berjalan dengan wajar dan baik-baik saja akan memberikan ketentraman hidup yang akhirnya dapat mempengaruhi tingkat konsentrasinya dan tentu saja mempengaruhi hasil belajarnya.
b)      Faktor Ekstern
Faktor ekstern merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu. Faktor ekstern ini berasal dari lingkungan dimana siswa/mahasiswa berada. Faktor ekstern ini dapat dilihat dari berbagai aspek. Beberapa diantaranya adalah aspek fisik maupun sosial phsikologis yang berada pada lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dari siswa/mahasiswa tersebut. Keluarga merupakan agen sosialisasi yang pertama dan paling utama dalam perkembangan individu. Keluarga yang memberikan landasan dasar bagi proses belajar, baik itu di sekolah maupun masyarakat.
Keadaan sekolah juga memiliki pengaruh bagi perkembangan individu. Sekolah yang memiliki keadaan fisik yang memadai dan kaya akan aktivitas-aktivitas pembelajaran akan membuat iklim yang membuat siswa lebih mudah dalam menangkap materi yang diberikan pada proses pembelajaran. Lingkungan sosial yang berada di sekitar sekolah juga memiliki peran dalam perkembangan siswa/mahasiswa. Misalnya saja sekolah yang berada di lingkungan yang berada di tepi jalan raya. Keadaan tersebut akan menimbulkan situasi yang tidak kondusif dan bising. Kebisingan tersebut yang kemudian akan membuat konsentrasi siswa terpecah, sehingga hasil belajarnya tidak optimal.
3)      Prestasi Belajar
Prestasi merupakan hasil dari apa yang telah diperbuat oleh seseorang setelah mengerjakan suatu aktivitas. Zaenal arifin mengatakan bahwa prestasi merupakan kemampuan, ketrampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal (Arifin:2011). Sementara menurut Mubbin syah dalam Arifin (2011) prestasi merupakan tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Jadi dapat dikatakan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan proses belajar. Prestasi belajar merupakan bagian dari kegiatan belajar.
Upaya mengukur prestasi belajar dapat dilakukan dengan melakukan evaluasi hasil belajar siswa. Evaluasi merupakan suatu cara yang digunakan guna mengukut hasil dari sebuah aktivitas. Nana Sudjana dalam Rahmad Arifin (2011) mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses memberikan atau menentukan nilai kepada obyek tertentu dan berdasarkan kriteria tertentu. Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi belajar merupakan proses untuk mengetahui dan menentukan nilai dari kegiatan belajar siswa melalui penilaian yang sesuai.

b.      Metode Pembelajaran Diskusi
1)      Pengertian Metode Pembelajaran
Metode merupakan cara yang digunakan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Metode pembelajaran berarti cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana dalam pembelajaran, yang telah disusun agar tercapai secara optimal. Metode dalam proses pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat penting. Keberhasilan guru dalam proses pembelajaran sangat bergantung akan metode yang diterapkan. Suatu metode tidak dapat diterapkan secara spekulatif. Metode yang akan digunakan harus lah disesuaikan dengan kondisi dan situasi anak didik.
2)      Jenis Metode Pembelajaran
Menurut Zuharini dalam Martinis Yamin dan Maisah (2009:149) ada beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, yaitu:
a)      Metode Ceramah
Metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa. Metode ceramah merupakan suatu cara yang sering dilakukan pada jenjang SD, SMP, dan SMA. Metode ceramah ini merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran ekspositori.
b)      Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode yang disajikan dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian , demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Meskipun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan , akan tetapi strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan dalam mendukung keberhasilan strategi pembelajaran , demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
c)      Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan, menjawab, pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan. Pada hakekatnya diskusi merupakan suatu metode yang digunakan guna saling bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.


3)      Metode Diskusi
a)      Pengertian
Metode diskusi merupakan metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan, menjawab, pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan. Pada hakekatnya diskusi merupakan suatu metode yang digunakan guna saling bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
b)      Jenis Metode Diskusi
Terdapat bermacam-macam jenis diskusi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yaitu:
(1)   Diskusi Kelas
Diskusi kelas juga sering disebut dengan diskusi kelompok. Jenis diskusi ini merupakan metode yang dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta dalam diskusi guna memecahkan masalah yang ada. Prosedur yang digunakan dalam jenis diskusi ini adalah: pertama, guru/dosen membagi tugas sebagai pelaksanaan diskusi, misalnya siapa yang akan menjadi moderator, dan siapa yang menjadi notulen. Kedua, sumber masalah (guru, siswa, atau ahli tertentu dari luar) memaparkan masalah yang harus dipecahkan selama 10-15 menit. Ketiga, siswa diberi kesempatan untuk menanggapi permasalahan setelah mendaftar pada moderator. Keempat, sumber masalah memberi tanggapan, dan yang kelima, moderator membuat kesimpulan atas diskusi yang telah berlangsung.
(2)   Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi yang dilakukan dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok. Satu kelompok terdiri atas 3-5 orang. Pelaksanaannya dimulai dengan penyajian masalah oleh guru yang dilakukan secara umum. Kemudian masalah tersebut dibagi ke dalam sub-sub masalah yang harus diselesaikan oleh setiap kelompok kecil. Seusai diskusi dalam kelompok kecil, ketua kelompok kemudian yang akan menyajikan hasil diskusinya.

(3)   Symposium
Symposium merupakan metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai sudut pandang berdasarkan keahlian. Symposium dilakukan guna memberikan wawasan yang luas kepada siswa. Setelah penyaji memberikan pandangannya tentang masalah yang dibahas, maka symposium diakhiri dengan pembacaan kesimpulan hasil kerja tim dan perumus yang telah ditentukan sebelumnya, dan lain sebagainya.
c)      Kelemahan dan Kelebihan Metode Diskusi
Ada beberapa kelemahan metode diskusi jika diterapkan dalam proses pembelajaran, diantaranya:
(1)  Seringkali terjadi pembicaraan yang didominasi oleh 2 atau 3 orang yang memiliki ketrampilan berbicara.
(2)  Terkadang pembahasan dalam diskusi meluas, sehingga kesimpulannya menjadi kabur.
(3)  Memerlukan waktu yang cukup panjang, yan terkadang tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
(4)  Dalam diskusi, sering terjadi perbedaan pendapat yang emosional dan tidak terkontrol. Akibatnya, ada pihak yang merasa tersinggung, dan pada akhirnya mengganggu iklim pembelajaran.
Sementara kelebihan dari metode diskusi adalah:
(1) Metode diskusi mampu merangsang siswa untuk lebih kreatif, khususnya dalam memberikan ide-ide atau gagasan.
(2) Melatih siswa untuk membiasakan diri untuk bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.
(3) Melatih siswa untuk mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal. Disamping itu, metode diskusi juga mampu untuk melatih siswa agar menghargai pendapat orang lain.
2.     Kerangka Pikir
Metode diskusi merupakan suatu metode yang paling sering digunakan dalam proses pembelajaran pada mahasiswa Pendidikan Sosiologi. Namun, kelemahan dalam metode ini adalah partisipasi mahasiswa yang tidak menyeluruh. Seringkali diskusi didominasi oleh 2 atau 3 orang yang mempunyai ketrampilan berbicara yang lebih. Sementara mahasiswa yang lainnya tidak memperhatikan apa yang tengah dipaparkan oleh penyaji/sumber masalah. Kelemahan-kelemahan tersebut yang membuat peneliti ingin mengkaji mengenai seberapa besar pengaruh penerapan metode pembelajaran diskusi terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk lebih mengetahui peran metode diskusi terhadap prestasi belajar mahasiswa, maka akan dilakukan perbandingan dengan penerapan metode lainnya, seperti metode ceramah.

3.     Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka pikir diatas, hipotesis tindakan ini mengacu pada ketiga jenis metode diskusi. Pertama, metode diskusi kelas yang juga sering disebut dengan diskusi kelompok. Jenis diskusi ini merupakan metode yang dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta dalam diskusi guna memecahkan masalah yang ada. Kedua, diskusi kelompok kecil yang dilakukan dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok. Satu kelompok terdiri atas 3-5 orang. Ketiga, symposium yang merupakan metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai sudut pandang berdasarkan keahlian. Symposium dilakukan guna memberikan wawasan yang luas kepada siswa.  Selain itu, tindakan ini juga mengacu pada penerapan metode-metode ceramah yang dilakukan oleh pendidik.

H.     Cara Penelitian
1.      Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas, dimana penelitian akan dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut. Penelitian tindakan kelas ini mengacu pada model penelitian yang diutarakan oleh Kemmis dan Mc. Taggart. Kemis dalam perencanannya mengunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai dengan rencana (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting), dan perencanaan kembali yang merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan masalah. Pola dasar PTK menurut Kemmis dan Mc. Taggart adalah sebagai berikut.
Perenungan        Perencanaan         Tindakan dan Observasi I         Refleksi I        Rencana Terevisi I        Tindakan dan Observasi II          Refleksi II         
                    Rencana Terevisi II         Tindakan dan Observasi III         Refleksi III
2.      Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Fakultas Ilmu Sosial berada pada kampus karangmalang, Yogyakarta.
3.      Subyek Penelitian
Teknik yang digunakan dalam menentukan subyek penelitian dengan menggunakan teknik populasi dan sampel. Dimana populasi penelitiannya adalah mahasiswa Pendidikan Sosiologi. Banyak cara yang dapat digunakan dalam menentukan jumlah sampel. Pada kali ini, peneliti akan menggunakan metode cluster sampel. Peneliti akan membagi populasi ke dalam beberapa kelompok. Kelompok-kelompok tersebut didasarkan pada kelas atau angkatan. Peneliti akan memilih sampel dari beberapa kelompok tersebut. Kemudian Peneliti akan memilih salah satu kelas melalui sistem acak. Peneliti memilih salah satu kelas dikarenakan peneliti akan menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Dalam pengajaran mahasiswa Pendidikan Sosiologi, ada dosen yang menggunakan metode diskusi dan ada pula yang menggunakan metode ceramah (tidak menggunakan metode diskusi). Untuk itu peneliti akan melakukan penelitian terhadap dua tindakan yang berbeda ini.

4.      Sumber Data
Sumber data merupakan suatu keadaan dimana seorang peneliti dapat memperoleh suatu informasi mengenai variabel yang sedang diteliti. Sumber data dari penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta dan juga pendidik/dosen Prodi Pendidikan Ssosiologi Universitas Negeri Yogyakarta. Selain itu, data juga akan diperoleh melalui teknik pengumpulan data yang berupa angket, observasi, wawancara dan dokumentasi.
5.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik atau cara yang akan dilakukan dalam proses pengumpulan data adalah pemberian angket, observasi wawancara dan dokumentasi.
a.       Angket
Angket atau kuesioner merupakan salah satu teknik pengumpulan data dengan menyebarkan sejumlah lembar kertas yang harus dijawab oleh responden. Pada metode ini, pertanyaan-pertanyaan harus ditulis dalam format kuesioner, dan kemudian disebarkan kepada responden untuk dijawab, kemudian dikembalikan kepada peneliti. Dari jawaban-jawaban responden inilah, peneliti akan memperoleh data seperti pendapat dan sikap responden terhadap masalah yang sedang diteliti. Ada beberapa kelebihan penggunaan metode angket dibanding dengan metode lainnya, yaitu.
1)      Tidak memerlukan kehadiran peneliti
2)      Dapat menjangkau responden dalam jumlah yang banyak.
3)      Seragam untuk semua responden
4)      Kerahasiaan responden terjamin karena responden bebas untuk tidak menyebutkan namanya (anonim).
5)      Dapat dijawab menurut kesempatan yang dimiliki responden.
Angket ini akan diberikan kepada responden sebelum terjadinya proses pembelajaran dan juga setelah proses pembelajaran guna menguji validitas dan reliabilitas data, serta mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan metode pembelajaran terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY. Tujuan diberikannya angket adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh metode pembelajaran diskusi terhadap prestasi belajar menurut mahasiswa Pendidikan Sosiologi. Pada penggunaan metode angket peneliti akan menggunakan sistem cluster sampling yang didasarkan pada kelas. Untuk itu peneliti akan menyebarkan angket kepada kelompok yang menjadi sampel dalam metode cluster sampling. Di dalam sebuah kelas ini, terdapat perbedaan cara dosen melakukan pembelajaran. Ada yang menggunakan metode diskusi dan ada yang menggunakan metode lainnya, misalnya metode ceramah. Disini peneliti akan memberikan angket setelah terjadi proses pembelajaran, baik yang menggunakan metode diskusi maupun yang menggunakan metode ceramah.
b.      Observasi
Observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala yang diselidiki (Rahmad Arifin: 2011). Sementara menurut W. Gulo dalam Rahmad Arifin (2011) observasi merupakan metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. Jenis observasi yang akan dilakukan adalah observasi partisipatoris. Jenis observasi partisipatoris merupakan suatu jenis observasi yang melibatkan peneliti untuk mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi secara langsung. Penggunaan jenis observasi ini bertujuan untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih valid. Pada penggunaan metode ini, peneliti akan melakukan observasi terhadap kelompok kelas yang dipilih secara acak (random). Peneliti akan memilih satu kelas yang didalamnya terdapat dua metode pengajaran, yaitu menggunakan metode diskusi dan satu kelas yang menggunakan metode lainnya, guna mengetahui pengaruh dari penerapan metode pembelajaran diskusi.
c.       Wawancara
Wawancara merupakan metode yang digunakan dengan melakukan proses tanya jawab guna mendapat data dari responden. Wawancara berisi pertanyaan-pertanyaan verbal yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman akan materi yang dijelaskan dengan menggunakan metode pembelajaran diskusi.
d.      Dokumentasi
Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan media, baik itu kamera, handicam, atau alat lainnya. Pada penelitian kali ini peneliti akan menggunakan kamera dan menggunakan hasil foto yang telah diambil pada saat proses pembelajaran tengah berlangsung.
6.      Instrumen Penelitian
a.       Angket
Angket digunakan untuk mengukur sejauh mana pengaruh penggunaan metode pembelajaran diskusi dan metode ceramah terhadap prestasi belajar mahasiswa. Angket ini akan diberikan sesudah dan sebelum terjadinya proses pembelajaran.
b.      Observasi
Instrumen penelitian yang akan digunakan dalam observasi berupa lembar observasi. Lembar observasi tersebut bersifat terstruktur, yaitu sudah memiliki pedoman-pedoman terperinci yang berisi langkah-langkah yang dilakukan sehingga peneliti hanya tinggal melakukan check list. Lembar observasi ini yang akan digunakan untuk mengukur berapa besar pengaruh metode pembelajaran terhadap prestasi belajar mahasiswa.

Tabel 1. Kisi-kisi pedoman observasi prestasi belajar mahasiswa
No
Nama Siswa
Indikator Prestasi Belajar
Jumlah
1
2
3
4
5

1







2







3







….







N







Jumlah Total

Keterangan:
Indikator Prestasi Belajar
1. Keaktifan dalam proses pembelajaran
2. Tugas Individu
3. Tugas Kelompok
4. Ujian Tengah Semester
5. Ujian Akhir Semester
Skala Yang digunakan untuk mengisi indikator prestasi belajar
5= sangat baik
4= baik
3= cukup baik
2= kurang baik
1= tidak baik

c.       Wawancara
Peneliti akan melakukan wawancara dengan sistem wawancara terstruktur, dimana pertanyaan-pertanyaan sudah disiapkan terlebih dahulu. Sehingga pada saat melakukan tanya jawab peneliti akan memiliki pedoman dan tidak melebar pada materi lainnya. Meskipun menggunakan metode wawancara terstruktur tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain terhadap responden dengan tujuan proses wawancara tidak berlangsung secara kaku.
d.      Dokumentasi
Peneliti akan menggunakan kamera/handicam guna merekam dan mengabadikan proses pembelajaran untuk memperkuat data-data hasil penelitian yang telah dilakukan.

7.      Prosedur Tindakan
Pada tahap ini peneliti menggunakan model spiral Kemmis dan Taggart. Model Kemmis dan Taggart ini terdiri dari beberapa siklus. Berikut merupakan siklus-siklus yang akan digunakan oleh peneliti.
a.      Siklus I
1)      Perencanaan
Pada tahap ini peneliti akan merancang model pembelajaran yang akan diterapkan pada saat proses belajar-mengajar berlangsung. Setelah itu  peneliti akan menyiapkan instrumen yang dibutuhkan dalam proses pengumpulan data berupa kamera/handicam, lembar observasi, lembar wawancara dan angket. Setelah semua selesai disiapkan, maka tahap selanjutnya adalah menyiapkan media pembelajaran yang akan diterapkan.
2)      Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti akan melakukan hal-hal yang telah ditetapkan dalam proses perencanaan sebelumnya. Pelaksanaan kegiatan yang akan dilakukan dibantu oleh  beberapa dosen/pembimbing mata kuliah yang menerapkan metode diskusi dan metode ceramah. Selanjutnya adalah melakukan pengamatan terhadap langkah-langkah kegiatan sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Pada tahap ini juga harus memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan. Selain itu, pada tahap ini juga akan dilakukan upaya-upaya antisipatif dengan melakukan solusi apabila menemui kendala/hambatan dalam melakukan tahapan-tahapan tindakan.
3)      Observasi (Pengamatan)
Observasi dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dalam mengamati proses observasi ini peneliti hanya tinggal mengisi lembar observasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya, sesuai dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar peneliti akan memberikan angket kepada mereka guna mengetahui sejauh mana pengaruh metode yang diberikan terhadap prestasi belajar. Hal ini akan dilakukan secara terus-menerus selama proses observasi berlangsung hingga akhirnya peneliti dapat mengambil kesimpulan akan data yang diperoleh.
4)      Refleksi
Pada tahap ini semua data yang telah diperoleh akan dianalisis sehingga dapat digunakan sebagai bahan refleksi untuk penerapan metode pembelajaran diskusi . Hasil dari refleksi tersebut akan digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan tindakan pada siklus II yang tentunya harus lebih efektif jika dibandingkan dengan siklus I.


b.      Siklus II
1)      Perencanaan
Perencanaan pada siklus ini merupakan perencanaan yang berkaca pada siklus I. Perencanaan pada siklus II adalah menyiapkan lembar observasi, kamera/handicam, lembar wawancara menyusun model pembelajaran, dan menyiapkan media yang sesuai dengan metode pembelajaran dan materi pembelajaran yang akan disampaikan serta membuat kuisioner/angket untuk dibagikan sebelum dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
2)      Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II hampir sama dengan apa yang dilakukan pada siklus I.
3)      Observasi
Observasi yang dilakukan pada siklus II sama seperti apa yang dilakukan pada siklus I. Kegiatan observasi juga dilakukan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Setelah itu, peneliti juga akan memberikan angket sebelum dan sesudah terjadinya proses pembelajaran.
4)      Refleksi
Refleksi pada siklus II tidak hanya digunakan sebagai acuan/pedoman dalam merencanakan perlakuan yang lebih efektif lagi untuk diterapkan pada siklus III. Refleksi pada siklus II ini juga akan dibandingkan dengan hasil refleksi siklus I. Perbandingan ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada peningkatan prestasi belajar siswa setelah dikenai perlakuan pada siklus I dan siklus II.
c.       Siklus III
1)      Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan pada siklus III mengacu pada perencanaan yang dilakukan pada siklus II. Dalam tahap ini peneliti juga akan menyiapkan lembar observasi, kamera/handicam, lembar wawancara merancang model pembelajaran, menyiapkan media yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran dan juga angket untuk mahasiswa.

2)      Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus III pada dasarnya sama dengan siklus II.
3)      Observasi
Kegiatan observasi pada siklus III sama seperti kegiatan observasi pada siklus II. Obervasi akan dilakukan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Selain melakukan obervasi peneliti juga akan membagikan angket terhadap mahasiswa.
4)      Refleksi
Hasil refleksi pada siklus III digunakan untuk membandingkan dengan siklus I dan II. Melalui hasil perbandingan ini akan diketahui bagaimana grafik prestasi belajar mahasiswa yang menerima metode pembelajaran diskusi dan mahasiswa yang menerima metode ceramah.

8.      Validasi Data
Validasi merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mendapat derajat kepercayaan dalam sebuah penelitian. Umumnya suatu data yang diperoleh peneliti harus melalui proses validasi data guna mendapatkan kepercayaan atas data yang diperoleh. Salah satu cara pengujian validasi terhadap data yang diperoleh adalah dengan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan cara memvalidasi data dengan membandingkan data dari berbagai perspektif, baik itu data yang berasal dari teknik pengumpulan data berupa observasi maupun angket. Selain itu, untuk mengetahui apakah data itu valid atau tidak, kita dapat menggunakan analisis korelasi. Melalui penggunaan analisis korelasi dapat mengetahui seberapa besar koefisien korelasi. Jika koefisien korelasi lebih dari 0,05 maka data dapat dinyatakan valid.

9.      Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah teknik analisis data kuantitatif. Teknik data kuantitatif ini didapat dengan teknik pengumpulan data berupa pengisian lembar observasi dan angket (kuesioner). Setelah data terkumpul maka langkah selanjutnya adalah pengeditan, pengkodingan, dan telaah ikhtisar dalam tabel, dan yang terakhir adalah melakukan analisis terhadap hasil-hasil yang telah diperoleh. Untuk menganalisis data, peneliti akan menggunakan metode analisis korelasi. Metode analisis korelasi merupakan suatu analisis untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan antarvariabel. Tingkat hubungan tersebut dapat dibagi kedalam tiga kriteria, yaitu mempunyai hubungan positif, mempunyai hubungan negatif, dan tidak mempunyai hubungan. Penggunaan analisis relasi ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara penerapan metode pembelajaran diskusi terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY.
Sebelum menentukan besar pengaruh metode diskusi terhadap prestasi belajar, akan dilakukan terlebih dahulu metode uji t-2 sampel. Dimana dalam uji  t- 2 sampel terdapat dua macam cara, yaitu independent t-tes dan paired t-test. Peneliti akan menggunakan uji independent t-test guna mengetahui apakah ada perbedaan antara penerapan metode diskusi dengan metode ceramah terhadap prestasi belajar mahasiswa pendidikan sosiologi.
Untuk membandingkan apakah ada perbedaan prestasi antara kelas yang dalam menggunakan metode diskusi dan   metode ceramah ada dua, yaitu ketika jumlah data (n) sama dan jumlah data (n) berbeda.
Rumus dari independent t-test dengan jumlah data (n) yang sama adalah sebagai berikut.


Untuk mencari varian sampel satu maupun sampel dua dapat menggunakan rumus:

 
Sementara rumus independent t-test untuk jumlah data (n) yang berbeda adalah sebagai berikut.
Dimana:
 : Rata-rata sampel pertama (1)
 : Rata-rata sampel kedua (2)
 :Varian sampel 1
 :Varian sampel 2
    : Jumlah Sampel
Setelah mengetahui besar t hitung, langkah selanjutnya adalah membandingkan dengan tabel. Untuk membandingkan dengan tabel maka harus diketahui terlebih dahulu taraf signifikansi dan juga dk. Untuk taraf signifikansi telah ditetapkan sebanyak 5 % dan untuk dk digunakan rumus . Tabel yang digunakan adalah tabel nilai-nilai distribusi t.
Setelah mengetahui apakah ada perbedaan antara penerapan dua metode yang berbeda terhadap prestasi belajar, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis korelasi. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat pengaruh penerapan metode pembelajaran diskusi terhadap prestasi belajar mahasiswa. Analisis korelasi ini dapat dilakukan dengan uji korelasi product moment.






Berikut adalah langkah untuk melakukan uji korelasi product moment.
1.      Buat Hipotesa
2.      Buat Tabel Penolong
No
Variabel X
(Metode Pembelajaran)
Variabel Y
(Prestasi Belajar)
1





2





3















Setelah membuat tabel bantu, kita dapat menghitung korelasi antarvariabel yaitu dengan rumus.
Dimana:
  : korelasi antarvariabel x dengan y
x     : ( )
y     : ( )
atau dengan rumus

3.      Menentukan besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap Y dengan rumus koefisien determinan, seperti berikut.
 
Dimana:
KD           : Besarnya koefisien determinan
r                : Koefisien korelasi
4.      Uji signifikansi menggunakan rumus t-test
Untuk mencari t tabel dengan mencari dk dan menentukan taraf signifikansi. Taraf signifikansi yang telah ditentukan adalah 5%. Sementara untuk mencari dk yaitu . Untuk melakukan pembandingan maka diperlukan tabel nilai r product moment. Jika hasil t hitung  t tabel maka data yang ada dapat dikatakan signifikan. Begitu pula sebaliknya, jika t hitung  t tabel maka data yang ada tidak signifikan.

Setelah melalui tahapan-tahapan tersebut, maka akan diketahui seberapa besar hubungan variabel x dengan variabel y, seberapa besar kontribusi variabel x dengan variabel y, dan juga akan diketahui apakah ada hubungan yang signifikan antara penerapan metode pembelajaran diskusi dengan prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY.

I.         Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan kurang lebih selama 2 bulan, yaitu pada bulan Mei-Juni. Adapun rincian rencana kegiatannya adalah sebagai berikut.
Kegiatan
Minggu
1
2
3
4
5
6
7
8
Proposal






Perizinan







Pengumpulan Data






Analisis Data






Penulisan Laporan







J.        Daftar Pustaka
Dwi Siswoyo, dkk. 2008. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
Hassan Langgulung. 1984. Manusia dan Pendidikan. Jakarta: Radar Jaya Offset
Martinis Yamin dan Maisah.2009. Manajemen Pembelajaran Kelas. Jakarta: Gaung Persada Press
Skripsi
Rahmad Arifin. 2011. Implementasi Metode Active Learning Time Token Arends 1998 untuk Meningkatkan Keaktifan dan Prestasi Belajar Sosiologi Siswa Kelas Khusus Olahraga SMA N 4 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2011/2012.Skripsi S1: Pendidikan Sosiologi FIS UNY.
Jurnal
Suprayekti. 2008.Penerapan Model Pembelajaran Interaktif pada Mata Pelajaran IPA di SD.TEKNODIK.Vol. XII. No.1.19-25



















KUESIONER

Berikut merupakan kuesioner yang akan dibagikan sebelum terjadinya proses pembelajaran terhadap kelas yang menerapkan metode pembelajaran diskusi.

Identitas responden
Nama..............................................
Kelas/Prodi……………………….
(Identitas responden boleh diisi atau pun tidak)

Petunjuk
Isilah pernyataan di bawah ini dengan memberikan tanda  (check list) pada jawaban yang paling sesuai dengan keadaan saudara. Pilihlah jawaban yaitu dengan alternatif sebagai berikut 1(Sangat Setuju), 2 (Setuju), 3 (Netral), 4 (Tidak Setuju), 5 ( Sangat Tidak Setuju).

No
Pernyataan
Jawaban
1
2
3
4
5

Efektifitas Metode Diskusi





1
Model Pembelajaran Diskusi merupakan model pembelajaran yang menyenangkan





2
Metode diskusi adalah metode yang efektif untuk melaksanakan proses pembelajaran  





3
Seluruh anggota kelas berpartisipasi dalam pelaksanaan diskusi





4
Setiap mahasiswa mempunyai peran dalam keberhasilan proses diskusi





5
Setiap anggota bertanggung jawab terhadap keberhasilan diskusi





6
Proses diskusi terjadi secara menyeluruh dan tidak hanya didominasi beberapa orang.






Peran individu dalam kelompok





7
Saya turut berperan dalam proses perencanaan diskusi





8
Saya turut berperan dalam proses penyusunan hasil diskusi





9
Saya turut berperan dalam memberikan materi untuk menjawab pertanyaan dalam proses diskusi





10
Saya turut berperan dalam menjawab pertanyaan yang ada dalam proses diskusi





11
Seluruh anggota kelas berpartisipasi dalam pelaksanaan diskusi






Peran Individu secara personal





12
Saya mendengarkan dengan baik pada saat berlangsungnya diskusi





13
Saya berani mengajukan pertanyaan dalam kelompok





14
Saya aktif mengajukan pertanyaan dalam diskusi kelompok





15
Saya aktif memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang ada dalam kelompok





16
Saya aktif memberi tanggapan terhadap jawaban yang diberikan oleh teman






Prestasi Individu





17
Saya mempunyai index prestasi (IP) yang tinggi dibandingkan dengan yang lain





18
Saya lebih mudah mengerjakan tugas setelah melakukan diskusi





19
Saya menyelesaikan tugas yang menjadi tanggungjawab saya dengan tepat waktu





20
Saya mengerjakan tugas yang diberikan berdasarkan kemampuan saya





21
Saya tidak setuju dengan perbuatan mencontek saat ujian





22
Saya mampu mengerjakan soal ujian dengan baik





23
Saya selalu mempelajari materi yang akan dikaji pada pertemuan berikutnya





24
Saya belajar minimal  1 jam dalam sehari





25
Saya memiliki materi hasil diskusi sebagai bahan untuk menghadapi ujian

















KUESIONER

Berikut merupakan kuesioner yang akan dibagikan sebelum terjadinya proses pembelajaran terhadap kelas yang menggunakan metode pembelajaran ceramah.

Identitas responden
Nama..............................................
Kelas/Prodi……………………….
(Identitas responden boleh diisi atau pun tidak)

Petunjuk
Isilah pernyataan di bawah ini dengan memberikan tanda….. (check list) pada jawaban yang paling sesuai dengan keadaan saudara. Pilihlah jawaban yaitu dengan alternatif sebagai berikut 1(Sangat Setuju), 2 (Setuju), 3 (Netral), 4 (Tidak Setuju), 5 ( Sangat Tidak Setuju).

No
Pernyataan
Jawaban
1
2
3
4
5

Efektifitas Metode Ceramah





1
Model Pembelajaran ceramah adalah metode pembelajaran yang menyenangkan





2
Metode ceramah adalah metode yang efektif untuk melaksanakan proses pembelajaran 





3
Seluruh anggota kelas memperhatikan penjelasan dosen pada saat terjadinya proses pembelajaran





4
Metode ceramah merupakan metode yang membosankan





5
Tingkat partisipasi mahasiswa tinggi dalam proses pembelajaran dengan penggunaan metode ceramah






Peran Mahasiswa dalam Proses Pembelajaran





6
Saya mendengarkan dengan baik pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar





7
Saya berani mengajukan pertanyaan terhadap dosen yang memberikan ceramah





8
Saya aktif mengajukan pertanyaan terhadap dosen





9
Saya aktif memberi tanggapan terhadap pemaparan dosen






Prestasi Individu





10
Saya mempunyai index prestasi (IP) yang tinggi dibandingkan dengan yang lain





11
Saya lebih mudah mengerjakan tugas setelah mendapat penjelasan/pemaparan dari dosen





12
Saya menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab saya dengan tepat waktu





13
Saya mengerjakan tugas yang diberikan berdasarkan kemampuan saya





14
Saya tidak setuju dengan perbuatan mencontek saat ujian





15
Saya mampu mengerjakan soal ujian dengan baik





16
Saya selalu mempelajari materi yang akan dikaji pada pertemuan berikutnya





17
Saya belajar minimal  1 jam dalam sehari





18
Saya mencatat apa yang dijelaskan oleh dosen





19
Saya selalu mempelajari apa yang telah diterangkan oleh dosen sepulang kuliah





20
Saya seringkali mengerjakan tugas atau belajar untuk ujian dengan SKS (Sistem Kebut Semalam)




















KUESIONER

Berikut merupakan kuesioner yang akan diberikan kepada responden setelah terjadinya proses pembelajaran, baik pada pembelajaran yang menggunakan metode diskusi maupun ceramah.

Identitas responden
Nama..............................................
Kelas/Prodi……………………….
(Identitas responden boleh diisi atau pun tidak)

Petunjuk
Isilah pernyataan di bawah ini dengan memberikan tanda  (check list) pada jawaban yang paling sesuai dengan keadaan saudara. Pilihlah jawaban yaitu dengan alternatif sebagai berikut 1(Sangat Setuju), 2 (Setuju), 3 (Netral), 4 (Tidak Setuju), 5 ( Sangat Tidak Setuju).

No
Pernyataan
Jawaban
1
2
3
4
5

Efektifitas Metode





1
Model Pembelajaran yang diterapkan oleh dosen sangat menyenangkan





2
Metode yang diterapkan adalah metode yang efektif untuk melaksanakan proses pembelajaran 





3
Seluruh anggota kelas berpartisipasi dalam pelaksanaan diskusi





4
Setiap mahasiswa mempunyai peran dalam keberhasilan proses pembelajaran





5
Setiap anggota bertanggung jawab terhadap keberhasilan pembelajaran






Peran Mahasiswa dalam Pembelajaran





6
Saya turut berperan dalam proses pembelajaran





7
Seluruh anggota kelas berpartisipasi dalam proses belajar mengajar






Aktivitas individu dalam Pembelajaran





8
Saya mendengarkan dengan baik pada saat berlangsungnya pembelajaran





9
Saya berani mengajukan pertanyaan pada saat proses belajar mengajar berlangsung





10
Saya aktif mengajukan pertanyaan tentang materi yang tengah dikaji





11
Saya aktif memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang ada dalam pembelajaran






Prestasi Individu





12
Saya mempunyai index prestasi (IP) yang tinggi dibandingkan dengan yang lain





13
Saya lebih mudah mengerjakan tugas setelah melakukan diskusi/ mendapat pemaparan dari dosen





14
Saya menyelesaikan tugas yang menjadi tanggungjawab saya dengan tepat waktu





15
Saya mengerjakan tugas yang diberikan berdasarkan kemampuan saya





16
Saya tidak setuju dengan perbuatan mencontek saat ujian





17
Saya mampu mengerjakan soal ujian dengan baik





18
Saya selalu mempelajari materi yang akan dikaji pada pertemuan berikutnya





19
Saya belajar minimal  1 jam dalam sehari





20
Saya memiliki materi/catatan terkait pembelajaran yang sudah berlangsung